Kantor Bupati Morowali,(FOTO:IST)
dteksinews, Morowali- Perubahan yang sedang dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali dalam menata wajah kota sesungguhnya perlu dilihat dalam konteks yang jauh lebih besar daripada sekadar pembongkaran sebuah tugu atau perubahan terhadap beberapa bangunan yang selama ini sudah dikenal masyarakat. Kita sedang berada pada sebuah fase penting dalam perjalanan Morowali, ketika perkembangan investasi pertambangan dan hilirisasi tumbuh begitu pesat, sementara pada sisi lain perkembangan kawasan perkotaan, fasilitas umum, ruang publik, pusat perdagangan, jasa, hiburan, rekreasi, kuliner, dan berbagai kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya tumbuh sebanding dengan perkembangan ekonominya. Karena itu, kebijakan pemerintah daerah untuk mulai memberikan perhatian besar terhadap pembangunan dan penataan kota sesungguhnya merupakan upaya untuk mengejar ketertinggalan tersebut sekaligus memastikan agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak hanya terlihat dari besarnya aktivitas industri, tetapi juga dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat Morowali sehari-hari.
Kita harus jujur melihat kondisi yang ada. Morowali telah menjadi salah satu daerah dengan aktivitas industri yang sangat besar. Investasi masuk, kawasan industri berkembang, hilirisasi berjalan, lapangan pekerjaan terbuka, dan ribuan pekerja datang untuk bekerja serta membelanjakan penghasilannya. Tetapi pertanyaannya kemudian adalah: apakah seluruh manfaat ekonomi dari aktivitas tersebut sudah berputar dan tinggal di Morowali? Kenyataannya, sebagian kebutuhan masyarakat dan pekerja belum dapat dipenuhi di dalam daerah sendiri. Ketika mereka membutuhkan tempat berbelanja yang lebih lengkap, tempat rekreasi, pusat kuliner, hiburan keluarga, fasilitas olahraga, pelayanan jasa, pusat perdagangan maupun berbagai kebutuhan lainnya, tidak sedikit yang memilih pergi ke daerah tetangga karena fasilitas yang dibutuhkan belum tersedia atau belum memadai di Morowali.
Ini bukan semata-mata kesalahan siapa-siapa. Ini adalah konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih cepat daripada pertumbuhan kotanya. Industri berkembang dalam waktu yang sangat cepat, sementara kota membutuhkan proses yang lebih panjang untuk membangun infrastruktur, fasilitas publik, pusat kegiatan ekonomi dan ruang kehidupan masyarakat. Karena itu, sekarang adalah saat yang tepat bagi pemerintah daerah untuk melakukan intervensi melalui pembangunan dan penataan kota agar terjadi keseimbangan antara kemajuan industri dengan kemajuan wilayah perkotaan.
Bayangkan apabila uang yang diperoleh para pekerja dan pelaku usaha dari aktivitas industri sebagian besar dibelanjakan di luar Morowali. Setiap akhir pekan mereka keluar daerah untuk berbelanja, makan, berekreasi atau memenuhi kebutuhan keluarga. Uang yang seharusnya dapat menjadi bagian dari perputaran ekonomi lokal akhirnya ikut mengalir keluar. Pedagang lokal kehilangan kesempatan, pelaku UMKM kehilangan pasar, sektor jasa tidak berkembang optimal, dan pada akhirnya pertumbuhan industri yang begitu besar belum sepenuhnya menciptakan efek ekonomi yang maksimal bagi masyarakat Morowali.
Maka membangun kota bukan sekadar membangun keindahan. Membangun kota adalah bagian dari strategi ekonomi daerah.
Kota harus dibuat nyaman sehingga orang betah tinggal. Kota harus dibuat representatif sehingga masyarakat memiliki kebanggaan. Fasilitas harus dilengkapi agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi di daerah sendiri. Ruang publik harus tersedia agar keluarga mempunyai tempat berkumpul. Pusat perdagangan dan jasa harus berkembang agar uang terus berputar di dalam daerah. UMKM harus mendapatkan pasar. Kuliner harus tumbuh. Tempat rekreasi harus tersedia. Fasilitas olahraga dan ruang terbuka harus dikembangkan. Infrastruktur harus ditata. Dan seluruhnya harus terhubung dalam sebuah konsep kota yang memiliki arah dan identitas.
Dengan cara pandang seperti itu, kebijakan pemerintah daerah untuk mulai membangun dan menata kota harus kita pahami sebagai bagian dari membangun ekosistem ekonomi Morowali, bukan sekadar proyek mempercantik wajah kota.
Dalam proses menuju ke sana tentu tidak semuanya dapat dipertahankan seperti kondisi sebelumnya. Ada bangunan yang harus ditata kembali, ada fasilitas yang mungkin harus dipindahkan, ada ruang yang harus dikosongkan, bahkan ada bangunan yang harus dibongkar karena sudah tidak sesuai dengan konsep penataan yang baru. Termasuk pembongkaran sebuah tugu yang saat ini menjadi perhatian masyarakat. Tentu bagi sebagian masyarakat, tugu tersebut memiliki kenangan dan nilai emosional. Hal itu harus dihargai. Tetapi penghargaan terhadap masa lalu tidak berarti kita harus menghentikan langkah menuju masa depan.
Yang dibongkar adalah bangunannya, bukan sejarahnya. Yang berubah adalah bentuk fisiknya, bukan penghargaan terhadap masa lalu.
Justru yang harus kita tanyakan adalah apa yang akan menggantikan ruang tersebut dan manfaat apa yang akan diberikan kepada masyarakat. Jika sebuah tugu dibongkar untuk kemudian dibangun kembali dalam bentuk yang lebih baik, lebih representatif, lebih sesuai dengan tata kota, dan menjadi bagian dari ruang publik yang lebih bermanfaat, maka perubahan itu seharusnya dilihat sebagai bagian dari proses pembenahan.
Pemerintah tentu harus memastikan bahwa setiap pembangunan dilakukan secara terencana, memiliki dasar yang jelas, memperhatikan aspek teknis dan aturan, serta tidak mengabaikan nilai sejarah dan aspirasi masyarakat. Masyarakat juga memiliki hak untuk bertanya, memberikan kritik dan menyampaikan masukan. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat perlu diberi gambaran yang utuh tentang ke mana arah pembangunan Morowali sedang dibawa.
Kita jangan sampai hanya melihat satu tugu yang dibongkar, tetapi tidak melihat gambaran besar yang sedang dibangun.
Kita jangan hanya menghitung apa yang hilang hari ini, tetapi juga harus menghitung manfaat apa yang dapat hadir dalam lima, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.
Morowali tidak boleh hanya menjadi tempat orang bekerja lalu pergi membelanjakan penghasilannya di daerah lain. Morowali harus menjadi tempat orang bekerja, tinggal, berbelanja, berusaha, berekreasi dan membangun kehidupannya. Uang yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi Morowali harus semakin banyak berputar di Morowali.
Itulah sebabnya pembangunan kota menjadi penting.
Ketika pusat perdagangan berkembang, maka pedagang mendapatkan manfaat. Ketika kuliner berkembang, maka pelaku UMKM mendapatkan pasar. Ketika tempat rekreasi tersedia, maka masyarakat tidak perlu selalu keluar daerah. Ketika hotel, jasa, pusat perbelanjaan, fasilitas olahraga dan ruang publik berkembang, maka muncul lapangan usaha baru. Ketika kota semakin nyaman dan tertata, maka orang akan semakin tertarik untuk tinggal, berinvestasi dan mengembangkan usahanya.
Pada akhirnya, industri menghasilkan pertumbuhan, tetapi kota yang hidup menciptakan perputaran ekonomi. Keduanya harus berjalan bersama.
Karena itu, momentum pertumbuhan investasi dan hilirisasi yang begitu besar di Morowali harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita hanya menjadi daerah tempat bahan baku diolah dan orang bekerja, tetapi nilai ekonomi lanjutannya justru lebih banyak dinikmati oleh daerah lain karena fasilitas dan ekosistem ekonominya lebih siap.
Pemerintah daerah saat ini memiliki tanggung jawab untuk mulai mengejar ketertinggalan tersebut. Bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk memperbaiki masa depan. Apa yang belum tersedia harus mulai disediakan. Apa yang belum tertata harus mulai ditata. Apa yang sudah tidak sesuai harus diperbaiki. Dan apa yang menghalangi terciptanya tata kota yang lebih baik harus dicarikan solusi.
Dalam pembangunan seperti ini, tentu ada yang harus dikorbankan. Tetapi pengorbanan tersebut harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar bagi masyarakat.
Sebuah bangunan dapat dibongkar dan dibangun kembali. Sebuah tugu dapat diganti dengan bentuk yang lebih baik. Sebuah kawasan dapat ditata ulang. Tetapi kesempatan untuk membangun Morowali dengan momentum ekonomi sebesar sekarang tidak boleh kita sia-siakan.
Karena itu, mari melihat kebijakan penataan kota dengan pikiran yang lebih luas dan hati yang lebih terbuka. Kritik tetap penting, sejarah tetap harus dihormati, tetapi masa depan juga harus dipersiapkan.
Kita sedang berada pada masa ketika Morowali tidak lagi bisa dikelola dengan cara-cara biasa. Pertumbuhan penduduk, investasi, industri dan aktivitas ekonomi menuntut pemerintah untuk berpikir lebih jauh dan lebih visioner.
Morowali membutuhkan kota yang mampu mengikuti pertumbuhan industrinya. Morowali membutuhkan ruang hidup yang layak bagi masyarakatnya. Morowali membutuhkan pusat ekonomi yang mampu menahan perputaran uang agar tidak terus mengalir keluar daerah. Dan Morowali membutuhkan wajah kota yang mencerminkan kemajuan yang sedang terjadi.
Mungkin hari ini sebagian masyarakat hanya melihat sebuah tugu yang tidak lagi berdiri.
Tetapi pemerintah sedang melihat sesuatu yang lebih jauh: sebuah kota yang ingin dibangun lebih lengkap, lebih nyaman, lebih indah, lebih representatif, lebih produktif, dan lebih mampu menangkap manfaat ekonomi dari kemajuan Morowali sendiri.
Karena sesungguhnya pembangunan bukan tentang mempertahankan semua yang ada. Pembangunan adalah tentang keberanian melakukan perubahan dengan tujuan yang benar, cara yang benar, dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Dan kalau hari ini ada sesuatu yang harus ditata ulang atau dikorbankan demi menghadirkan Morowali yang lebih baik, maka mari kita pastikan bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia.
Kita hormati masa lalu, kita benahi hari ini, dan kita bangun Morowali untuk masa depan.
Sebab Morowali yang sedang kita bangun bukan hanya untuk generasi yang hidup hari ini, tetapi juga untuk anak cucu yang kelak akan menikmati hasil dari keberanian kita melakukan perubahan.
Sumber: Assisten III Bidang Administrasi Umum Setda Morowali Afridin












