Madura Kaili

- Penulis

Sabtu, 24 Februari 2024 - 23:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

dteksinews,Jakarta-BUGIS, Madura, Banten, Aceh, Kaili: mana yang punya sifat lebih egaliter? Atau setara?

Tokoh golok Banten sampai ke Sulteng. Meneliti senjata tadulako: apakah ada hubungan dengan golok Ciomas. Ia adalah profesor si kumbang. Ahli golok Ciomas. Nama aslinya Ariyanto. Ia ngotot agar golok Ciomas diakui sebagai warisan budaya dunia.

Seorang ilmuwan Belanda sampai belajar Islam ke Makkah untuk menundukkan Aceh. Ia adalah: Anda sudah tahu.

Kini jenderal Madura melakukan penelitian budaya suku Kaili tentang Tadulako.

Ia adalah Mayjen TNI Farid Makruf, kepala staf Kostrad. Menjelang Pemilu kemarin Farid dipindah ke Kostrad dari jabatan Pangdam V/Brawijaya.

Tadulako, Anda sudah tahu: prinsip hidup di Sulawesi Tengah. Di suku Kaili. Universitas Negeri di Palu pun diberi nama Tadulako. Korem di sana juga disebut Korem 132 Tadulako.

”Waktu pertama menjabat Danrem di Palu saya penasaran. Kenapa Korem ini diberi nama Tadulako. Siapa itu Tadulako,” ujar Farid saat itu.

Farid kini kuliah S-3 di Universitas Tadulako. Farid kuliah S-2 di Inggris, di bidang kajian strategi budaya dalam perang.

Farid berhasil meraih master di Inggris berkat Prabowo. Ketika Prabowo menjabat Danjen Kopassus memang banyak anggota yang pintar dikirim ke Inggris. Juga ke Amerika.

Banyak juga anggota Kopassus dikirim ke Ciomas, Banten. Di Ciomas mereka belajar silat pakai golok.

Golok Ciomas memang simbol jawara Banten. Ada museum golok di Ciomas. Ada pula koleksi golok raksasa: panjang tujuh meter. Beratnya dua ton.

Satu bulan anggota Kopassus berlatih di padepokan silat Ciomas. Khususnya anggota Kopassus dari Grup 1.

Di Sulteng, Farid mendalami sosiologi suku Kaili. Intinya ada di Tadulako. Dari penasaran ”apa itu Tadulako” Farid menemukan strategi budaya Tadulako.

Strategi itulah yang membuat Korem Tadulako dan Polda Sulteng akhirnya berhasil mengakhiri secara total konflik Poso dan ikutannya.

Ketika akhirnya Farid dinaikkan ke jabatan lebih tinggi ia justru menawar: apakah kenaikan itu bisa ditunda dua bulan.

Ia ingin menuntaskan dulu konflik Poso sampai benar-benar tidak akan berbuntut lagi. Ia senang ketika promosinya ditunda.

Baca Juga:  Safari Berkah Iksan-Iriane, Ribuan Warga Morowali Terima Bantuan Sembako

Saat menjabat Danrem itu Farid menulis buku tentang Tadulako. Sebelum itu ia harus mengadakan beberapa seminar tentang Tadulako.

Ternyata belum ada ilmuwan yang meneliti budaya Tadulako. Universitas Tadulako pun hanya punya satu literatur tentang Tadulako. Hanya 14 halaman.

Maka kepalang basah. Rektor Universitas Tadulako menyarankan Farid sekalian ambil gelar doktor Tadulako di Universitas Tadulako.

April nanti ujian terbukanya dilakukan: ia akan jadi doktor pertama soal Tadulako. Pembimbingnya: Prof Dr Nur Ali, sosiolog di sana.

Pasca Pilpres kemarin Farid menyelesaikan penelitiannya. Ia keliling ke lembah dan gunung di pedalaman Sulteng.

Ia sudah biasa menjelajah kawasan konflik itu. Kali ini ia lebih cermat. Setiap titik kunjungan ia upload ke Google. Pun siapa yang ia temui. Bertanya apa saja. Berikut jawaban mereka.

Kunjungan untuk penelitian ini berbeda dengan kunjungan waktu menjabat Danrem. Waktu itu suasananya membunuh atau dibunuh.

”Sekarang damai sekali. Saya bahagia melihat malam-malam sepeda motor ramai berlalu lalang di pedalaman,” katanya.

”Dulu, begitu malam sepi sekali. Mobil pun baru berani lewat kalau berkonvoi,” tambahnya.

Farid menyesal: Si kumbang dari Ciomas meninggal dunia belum lama ini. Ia memang sempat bertemu si kumbang, tapi hanya sebentar. Saat suasana belum aman. Waktu itu si kumbang ke Sulteng. Ia meneliti apakah ada hubungan antara senjata Tadulako dengan golok Ciomas.

Farid sempat dapat keterangan dari si kumbang: ternyata tidak ada hubungan. ”Golok Tadulako memang beda. Gagangnya dari tanduk kerbau,” ujar Farid.

Tadulako bukanlah orang. Bukan tokoh. Bukan sosok. Tadulako adalah prinsip hidup suku Kaili: punya jiwa pejuang, jiwa pemimpin yang harus terdepan dalam menjadi panutan dan jiwa kepahlawanan.

Rasanya budaya seperti itu juga ada di suku Bugis, Madura, Aceh, dan Banten. ”Sifat kami memang kurang lebih sama dengan suku Bugis di Sulsel,” ujar Kamil Badrun, tokoh suku Kaili di Palu.

Memang tidak akan ada lagi perang jarak dekat dengan menggunakan golok, tapi konflik-konflik lokal tidak akan pakai drone.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel dteksinews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pelayanan Paspor di MPP Morowali Utara Kembali Hadir, Imigrasi Morowali Dekatkan Layanan kepada Masyarakat
Wabup Iriane Iliyas, Hadiri  Wisuda Khataman Al-Qur’an di Ponpes Al- Hikmah Lambelu 
Dharma Santi 2026, Presiden Prabowo Tekankan Nilai Persaudaraan dan Toleransi
Sedulur Papat Limo Pancer ” Filosofi Jawa”
Bupati Morowali Minta OPD Pahami Arah Program, Bukan Sekadar Anggaran
Wabup Morowali, Hadiri Haul ke-58 Guru Tua di Desa Wosu
Polres Morowali Laksanakan Pengamanan Ibadah Jumat Agung Tahun 2026
Semangat Kemenangan Menggema! Kodam XVIII/Kasuari Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H dan Halal Bihalal Penuh Kebersamaan
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 08:50 WIB

Pelayanan Paspor di MPP Morowali Utara Kembali Hadir, Imigrasi Morowali Dekatkan Layanan kepada Masyarakat

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:45 WIB

Wabup Iriane Iliyas, Hadiri  Wisuda Khataman Al-Qur’an di Ponpes Al- Hikmah Lambelu 

Sabtu, 18 April 2026 - 07:29 WIB

Dharma Santi 2026, Presiden Prabowo Tekankan Nilai Persaudaraan dan Toleransi

Jumat, 17 April 2026 - 11:13 WIB

Sedulur Papat Limo Pancer ” Filosofi Jawa”

Senin, 13 April 2026 - 01:30 WIB

Bupati Morowali Minta OPD Pahami Arah Program, Bukan Sekadar Anggaran

Berita Terbaru

Berita

Fraksi NasDem Soroti Pemda Morowali,SILPA 848 Miliar 

Jumat, 19 Jun 2026 - 12:18 WIB