Dr. H. Suaib Djafar, M.Si (Maestro Budayawan Kaili),(FOTO:IST)
*Ungkapan Bijak Masyarakat Kaili Berbasis Kearifan Lokal*
Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si (Maestro Budayawan Kaili)
Masyarakat Kaili mewariskan banyak ungkapan bijak yang mengandung nilai moral, etika, dan tuntunan hidup. Salah satu ungkapan yang sarat makna adalah:
“Da Napai Da Nekarapai” (Waktu sulit masih didekati).
“Nariapa Nekalingasimo” (Begitu berada, lupa segalanya).
Serta ungkapan:
“Da Naria Danipokono” (Saat memiliki harta dan kedudukan, banyak yang menyukai).
“Napakasipa Niporayumo” (Begitu jatuh miskin, sudah dicampakkan).
Ungkapan ini mengajarkan bahwa kehidupan manusia selalu berputar. Ketika seseorang berada dalam kesulitan, masih ada orang yang datang memberi semangat dan harapan.
Namun, ketika telah berhasil dan memperoleh kekayaan atau kedudukan, jangan sampai melupakan jasa, persaudaraan, dan orang-orang yang pernah menemani dalam masa sulit.
Sebaliknya, ungkapan ini juga menjadi cermin kehidupan sosial bahwa tidak semua hubungan dibangun atas dasar ketulusan.
Banyak orang datang ketika seseorang berada dalam keadaan berkecukupan, tetapi ketika kemiskinan atau musibah datang, tidak sedikit yang menjauh bahkan meninggalkan. Oleh karena itu, masyarakat Kaili mengajarkan agar manusia tidak menilai seseorang berdasarkan harta atau kedudukannya, melainkan berdasarkan akhlak, kejujuran, dan kemanusiaannya.
Nilai luhur yang terkandung dalam ungkapan ini adalah pentingnya kesetiaan, rasa syukur, rendah hati, menghargai persahabatan, serta menjaga solidaritas dalam suka maupun duka. Kearifan lokal Kaili mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan hanyalah titipan yang dapat berubah sewaktu-waktu, sedangkan budi pekerti dan kepedulian kepada sesama merupakan warisan yang akan dikenang sepanjang masa.
Dalam kehidupan bermasyarakat, ungkapan ini menjadi pedoman agar setiap orang tetap memelihara nilai Nosipeili (saling peduli), Nosimpotove (saling mengasihi), dan Nosimpoasi (saling menghormati). Dengan demikian, hubungan sosial akan tetap harmonis, tidak dibangun atas kepentingan sesaat, tetapi atas dasar persaudaraan yang tulus. Inilah esensi kearifan lokal masyarakat Kaili yang terus relevan dalam membangun kehidupan yang adil, bermartabat, dan penuh kebersamaan menuju Sulteng Nambaso.(***)














