Wakil Ketua 3 Exco Kabupaten Morowali Bakit Sulaiman (FOTO:IST)
Opini
“Buruh Tidak Boleh Buta Politik dan Terjebak Ego Organisasi”
Miris dan memprihatinkan. Di tengah derasnya arus industrialisasi di Kabupaten Morowali, ketika persoalan upah, keselamatan kerja, PHK, outsourcing, hingga ketimpangan kesejahteraan masih menjadi kenyataan yang dihadapi pekerja, justru sebagian serikat buruh dan serikat pekerja masih sibuk mempertahankan ego serta sekat-sekat organisasi.
Hal itu disampaikan Bakit Sulaiman, Wakil Ketua 3 Exco Kabupaten Morowali, yang menilai bahwa gerakan buruh akan sulit menjadi kekuatan besar apabila masih memandang politik sebagai sesuatu yang tabu atau bahkan musuh perjuangan.
“Saya melihat dengan rasa miris, masih ada SP/SB yang enggan memahami politik secara utuh. Padahal nasib buruh tidak ditentukan hanya di dalam pagar perusahaan atau meja bipartit, tetapi juga diputuskan melalui kebijakan dan keputusan politik. Kalau buruh menjauh dari ruang itu, lalu siapa yang akan menentukan masa depan mereka?” tegasnya.
Menurutnya, perjuangan buruh yang hanya berhenti pada urusan normatif tanpa keberanian membaca arah kebijakan adalah perjuangan yang mudah dipatahkan.
“Kita jangan hanya berani bicara saat upah dipotong atau hak dilanggar, tetapi diam ketika kebijakan yang memengaruhi hidup buruh sedang disusun. Itu bukan strategi perjuangan, itu justru bentuk kelemahan gerakan,” ujarnya.
Bakit juga menyoroti tingginya ego sebagian organisasi yang menurutnya lebih sibuk menjaga gengsi daripada membangun solidaritas.
“Terlalu tinggi ego organisasi hanya akan melahirkan perpecahan. Sibuk merasa paling benar, paling besar, atau paling murni, sementara buruh tetap menghadapi persoalan yang sama dari tahun ke tahun. Kalau persatuan terus dikalahkan oleh rivalitas, maka gerakan buruh hanya akan menjadi penonton di tanahnya sendiri,” katanya.
Ia menegaskan bahwa memahami politik bukan berarti kehilangan independensi, melainkan memahami medan perjuangan secara lebih luas dan bijak.
“Sudah saatnya SP/SB di Morowali membangun kesadaran yang lebih dewasa, lebih manusiawi, dan lebih visioner. Asas kemanusiaan serta kepentingan pekerja harus berada di atas ego dan sekat organisasi. Karena yang diperjuangkan bukan kebanggaan kelompok tertentu, melainkan martabat dan masa depan kaum buruh secara kolektif.”
“Buruh yang tercerai oleh ego akan mudah dilemahkan. Buruh yang bersatu dan sadar politik akan menjadi kekuatan perubahan.”














