Pengaruh Beauty Standard terhadap Kondisi Psikologis Perempuan.

- Penulis

Selasa, 13 Januari 2026 - 02:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rahmadina Komisariat FKIP HMI Cabang Palu,(foto:ist)

 

 

Oleh :Rahmadina Komisariat FKIP HMI Cabang Palu.

Beauty standard dapat dipahami sebagai ukuran kecantikan yang terbentuk melalui konstruksi sosial, budaya, dan peran media, yang tidak hanya menitikberatkan penilaian pada aspek fisik seperti wajah dan bentuk tubuh, tetapi juga pada cara berpakaian serta bagaimana perempuan menampilkan dirinya di ruang publik.

Standar ini membentuk gambaran ideal mengenai bagaimana perempuan seharusnya berpenampilan dan bersikap agar dianggap menarik, pantas, dan dapat diterima oleh lingkungan sosial. Secara psikologis, beauty standard memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan citra diri perempuan karena penampilan luar, termasuk gaya berpakaian, kerap dijadikan indikator utama dalam menilai nilai dan harga diri.

Pengaruh beauty standard terhadap kondisi psikologis perempuan semakin menguat di era modern, khususnya melalui media sosial dan industri mode.

Perempuan terus dihadapkan pada representasi kecantikan ideal dan tren berpakaian tertentu yang dianggap sesuai dengan standar sosial. Paparan yang berulang ini mendorong perempuan untuk membandingkan dirinya dengan standar yang sering kali sulit dicapai dan tidak realistis.

Proses perbandingan tersebut memunculkan tekanan psikologis berupa rasa tidak percaya diri, kecemasan, serta kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.

Akibatnya, perempuan merasa terdorong untuk menyesuaikan penampilan dan pilihan berpakaian demi memenuhi ekspektasi sosial, bukan berdasarkan kenyamanan atau jati diri yang dimiliki.

Menurut pandangan saya, dampak beauty standard terhadap psikologis perempuan bersifat kompleks dan berkelanjutan. Tekanan yang dialami secara terus-menerus dapat memicu ketidakpuasan terhadap diri sendiri, penurunan rasa percaya diri, serta munculnya kecemasan sosial yang berkepanjangan.

Perempuan menjadi kurang leluasa dalam mengekspresikan diri melalui penampilan karena adanya rasa takut dianggap tidak sesuai dengan standar yang berlaku. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi stres kronis hingga gangguan kesehatan mental.

Padahal, dalam QS. At-Tin ayat 4 ditegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang menunjukkan bahwa nilai seorang perempuan tidak seharusnya ditentukan oleh fisik maupun cara berpakaian.

Baca Juga:  Perkuat Ketahanan Pangan,Kopka Hendra Kurniawan  Aktif Dampingi Petani 

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Naomi Wolf, seorang penulis dan aktivis feminis, yang dalam karyanya The Beauty Myth menjelaskan bahwa standar kecantikan kerap dijadikan sarana kontrol sosial terhadap perempuan.

Naomi Wolf berpendapat bahwa tekanan terhadap penampilan justru semakin kuat ketika perempuan mulai memperoleh peran dan ruang yang lebih luas dalam kehidupan sosial. Saya sependapat dengan gagasan tersebut, karena beauty standard membuat perempuan terus disibukkan dengan tuntutan penampilan dan pakaian, sehingga energi psikologisnya lebih banyak terserap untuk memenuhi ekspektasi sosial daripada mengembangkan potensi dan kapasitas diri.

Sebagai perempuan, saya berpendapat bahwa upaya untuk mengurangi dampak beauty standard perlu dilakukan secara sadar dan berkelanjutan.

Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain membangun sikap penerimaan diri dengan menyadari bahwa kecantikan dan kepantasan tidak memiliki satu ukuran baku serta tidak harus mengikuti standar yang dibentuk media.

Selain itu, penting untuk mengembangkan kesadaran kritis terhadap media agar perempuan mampu menyaring dan mempertanyakan standar kecantikan serta tren berpakaian yang ditampilkan. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah membaca buku yang membahas isu perempuan dan kesehatan mental, termasuk karya Naomi Wolf, sebagai sarana memperluas perspektif dan memperkuat kesadaran diri.

Mendengarkan podcast yang mengangkat tema nilai diri dan pengalaman perempuan juga dapat menjadi media refleksi serta penguatan psikologis. Di samping itu, menciptakan lingkungan sosial yang suportif, yang menghargai perempuan tanpa menjadikan fisik dan cara berpakaian sebagai tolok ukur utama, menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental.

Melalui upaya-upaya tersebut, saya meyakini perempuan dapat terbebas dari tekanan psikologis akibat beauty standard dan membangun relasi yang lebih sehat dengan dirinya sendiri.(*/dteksinews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel dteksinews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ngopi Bukan Lagi Soal Rasa, Tapi Gaya Hidup
Bertemu Dubes Indonesia untuk Italia, Bamsoet Dorong Penguatan Hubungan Bilateral Indonesia–Italia Lewat Ekonomi, Pendidikan, Budaya, dan Teknologi
Wabup Morowali Iriane Iliyas, Terima LHP Kepatuhan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sektor Pertambangan
Perempuan Bersuara, Tapi Kenapa Masih Disuruh Diam?
Peringati Hari Dharma Samudera, Kodaeral VI Gelar Upacara di KRI Marlin di Morowali
Perkuat  Kemitraan ,PWI  Silaturahmi  dengan Polda Sulawesi Tengah 
RKAB 2026 Disetujui, PT Vale Pastikan Operasional dan Investasi Berlanjut
Jaga Keamanan  Tetap Kondusif, Babinsa Pererat Silaturahmi  Dengan Warga Binaan 
Berita ini 68 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 15:22 WIB

Ngopi Bukan Lagi Soal Rasa, Tapi Gaya Hidup

Jumat, 16 Januari 2026 - 10:02 WIB

Bertemu Dubes Indonesia untuk Italia, Bamsoet Dorong Penguatan Hubungan Bilateral Indonesia–Italia Lewat Ekonomi, Pendidikan, Budaya, dan Teknologi

Jumat, 16 Januari 2026 - 02:55 WIB

Wabup Morowali Iriane Iliyas, Terima LHP Kepatuhan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sektor Pertambangan

Jumat, 16 Januari 2026 - 02:32 WIB

Perempuan Bersuara, Tapi Kenapa Masih Disuruh Diam?

Kamis, 15 Januari 2026 - 13:02 WIB

Peringati Hari Dharma Samudera, Kodaeral VI Gelar Upacara di KRI Marlin di Morowali

Berita Terbaru

Berita

Ngopi Bukan Lagi Soal Rasa, Tapi Gaya Hidup

Jumat, 16 Jan 2026 - 15:22 WIB

Berita

Perempuan Bersuara, Tapi Kenapa Masih Disuruh Diam?

Jumat, 16 Jan 2026 - 02:32 WIB