dteksinews, Jakarta– Indeks Bisnis-27 ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (8/4/2026). Sejumlah saham seperti BRPT, AMRT, hingga INCO turut tercatat melesat hingga penutupan perdagangan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia ditutup menguat 4,36% ke posisi 495,03.
Dari 27 konstituen, sebanyak 24 saham menguat dan menyisakan hanya 3 saham lesu. Penguatan harga saham dipimpin oleh PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang naik 20,89% ke Rp1.765, diikuti saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang naik 8,90% ke Rp1.530, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) naik 8,30% ke Rp6.200, dan saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) naik 7,78% ke Rp3.740.
Selain itu, kinerja saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga menguat 7,69% ke Rp3.780, saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) menguat 7,61% ke Rp1.980, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 6,78% ke Rp252, dan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) menguat 5,28% ke Rp2.590.
Sementara itu, hanya tiga saham yang bergerak melemah, antara lain PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) yang turun 0,60% ke Rp1.665, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) turun 2,39% ke Rp2.860, dan saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) turun 4,60% ke Rp1.555.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan pengumuman FTSE akan menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG yang sepanjang tahun tertekan oleh sentimen perang Timur Tengah.
“Bila tidak terjadi downgrade [ke frontier market], maka potensi outflow bisa terhindari,” kata Nafan. Sampai dengan 7 April 2026, terdapat net sell asing secara year to date (YtD) mencapai Rp36,23 triliun.
Komposisi investor pasar saham masih didominasi oleh investor domestik dengan persentase 66% dibanding 34% investor asing. Dalam pengumuman terbarunya, FTSE menegaskan saat ini mereka tidak mempertimbangkan Indonesia untuk masuk ke dalam daftar pantauan yang berpotensi menurunkan derajat pasar modal nasional di mata investor global.
“Pada tahap ini, status pasar Secondary Emerging Indonesia tetap tidak berubah. FTSE Russell tidak mempertimbangkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam Watch List dan akan terus memantau kemajuan reformasi serta menjalin komunikasi dengan pelaku pasar,” tulis FTSE Russell dalam laporannya. Keputusan FTSE Russell untuk mempertahankan posisi Indonesia tersebut didasari oleh apresiasi terhadap serangkaian inisiatif reformasi yang tengah dijalankan otoritas bursa dan regulator di Tanah Air.
Beberapa langkah yang dicermati meliputi peningkatan pengungkapan pemegang saham (shareholder disclosure), perluasan kategori klasifikasi investor, hingga pengetatan aturan free float minimum. Lembaga tersebut menilai langkah-langkah ini merupakan respons positif untuk menjawab kekhawatiran pelaku pasar global terkait transparansi dan keandalan data transaksi yang sempat menjadi sorotan sebelumnya.(***)














