Ilustrasi kegiatan usaha Vale Indonesia (INCO). (FOTO: INCO)
dteksinews, Jakarta – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akan mengeksekusi opsi penambahan kepemilikan saham hingga 30% di proyek-proyek smelter berteknologi high pressure acid leach (HPAL), terutama pada JV Pomalaa dan Sorowako.
Rencana itu diungkapkan oleh manajemen Vale Indonesia (INCO) dalam earnings call bersama para pelaku pasar, Rabu (8/4/2026), seperti dikutip Stockbit Sekuritas dalam catatannya, Kamis (9/4/2026).
“Opsi top up hingga 30% di JV Pomalaa dan Sorowako paling cepat dieksekusi pada 2027 dan sudah dimasukkan ke rencana capex,” ungkap Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin.
Adapun pertimbangan utama INCO mengeksekusi opsi kepemilikan di proyek-proyek HPAL bukan hanya terkait EBITDA positif, tetapi juga kualitas smelter HPAL saat beroperasi.
Saat ini, INCO merupakan pemilik minoritas di seluruh proyek HPAL dengan kepemilikan di Bahodopi sudah final, sedangkan di Pomalaa dan Sorowako masih berupa opsi yang belum dieksekusi.
Progres pembangunan tambang di Pomalaa telah mencapai 60% per Januari 2026, sedangkan progres pembangunan HPAL sekitar 53% dengan target beroperasi pada kuartal III-2026.
“Pengiriman bijih perdana dipercepat 2 bulan menjadi Februari 2026 untuk persiapan uji coba,” sebut Melvin.
Lalu, di Bahodopi, Kabupaten Morowali, progres pembangunan tambang hampir rampung, yaitu sekitar 99% per Januari 2026. Progres pembangunan HPAL mencapai 21,5% dengan target beroperasi pada kuartal IV-2026.
Sedangkan Sorowako limonit masih tahap awal dengan progres pembangunan tambang sekitar 37% per Januari 2026, sementara progres pembangunan HPAL mencapai 17% dengan target beroperasi pada kuartal II-2027.
Selain progres ekspansi, manajemen INCO juga mengungkapkan biaya tunai (cash cost) nikel matte di tengah ketegangan Timur Tengah. Manajemen INCO berupaya menjaga cash cost nikel matte di bawah US$ 10.000/ton selama 2026 dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar US$ 9.339/ton.
Manajemen menjelaskan bahwa inventory energi perseroan mencapai 2 bulan dengan sumber energi terdiversifikasi (air, diesel, batu bara) dan inventory sulfur berkisar 33-35 minggu (8-9 bulan) sebagai buffer.(***)














