Kasat Reskrim Polres AKP Erick Wijaya Siagian (kiri), pada saat konferensi pers terkait pembakaran kantor PT RCP dan 5 orang ditetapkan menjadi tersangka,(foto dok : dteksinews.co.id)
dteksinews, Morowali-Kepolisian Resor (Polres) Morowali menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus pembakaran Kantor PT Raihan Catur Putra (RCP) di Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Dan dua terduga pelaku lainnya masih dalam pencarian aparat kepolisian.
Hal tersebut disampaikan oleh Kapolres Morowali AKBP Zulkarnain melalui Kasatreskrim Polres Morowali AKP Erick Wijaya Siagian, didampingi Kanit Tipidter Polres Morowali, saat menggelar konferensi pers di Mapolres Morowali, Senin (5/1/2026).
Menurut Erick bahwa, peristiwa pembakaran kantor PT RCP merupakan dampak lanjutan dari penangkapan seorang tersangka berinisial A dalam perkara dugaan diskriminasi ras dan etnis. Kasus tersebut bermula dari laporan masyarakat atas nama Sukardin yang diterima Polres Morowali sekitar September 2025.
“Perkara dugaan diskriminasi ras dan etnis ini telah kami tingkatkan dari tahap penyelidikan ke penyidikan. Terlapor sudah dua kali dipanggil sebagai saksi, namun tidak memenuhi panggilan sehingga diterbitkan surat perintah membawa saksi,” ungkap Erick.
Dalam proses tersebut sempat terjadi penolakan dari terlapor, namun setelah dilakukan pendekatan persuasif, yang bersangkutan akhirnya diperiksa. Berdasarkan hasil gelar perkara pada 22 Desember 2025, penyidik menetapkan saudara A sebagai tersangka dan melayangkan dua kali surat panggilan sebagai tersangka. Karena tidak diindahkan tanpa alasan yang sah, penyidik melakukan penangkapan pada 3 Januari 2026.
Pasca penangkapan tersebut, situasi berkembang. Sekitar pukul 20.00 WITA, puluhan orang mendatangi Polsek Bungku Selatan untuk menuntut pembebasan tersangka A sambil membawa obor. Dalam situasi tersebut, sempat muncul ajakan provokatif untuk membakar kantor Polsek, namun berhasil diredam aparat sehingga massa membubarkan diri.
Sekitar satu jam kemudian, massa yang sama mendatangi Kantor PT RCP. Di lokasi inilah aksi pembakaran terjadi. Pihak PT RCP kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Bungku Selatan, yang selanjutnya ditangani oleh Satreskrim Polres Morowali.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), penyidik menemukan sejumlah barang bukti, di antaranya pecahan botol kaca hijau yang diduga bom molotov, ban bekas yang terbakar, serta rekaman video yang memperlihatkan secara jelas aksi pembakaran.
“Dari bukti elektronik, terlihat jelas salah satu tersangka berinisial R melemparkan bom molotov ke dalam kantor PT RCP, sementara di dalam kantor masih terdapat karyawan. Tindakan ini sangat membahayakan nyawa orang lain,” ujar Erick.
Lanjut Erick, selain R, polisi juga menetapkan empat tersangka lainnya, yakni U dan S yang berperan menyiram bensin dan menggunakan obor, A yang melempar ban untuk memperbesar api, serta J yang turut melakukan perusakan dengan melempar batu. Dari lima tersangka tersebut, tiga orang telah diamankan, yakni R, U, dan A, sementara dua lainnya, S dan J, masih dalam pengejaran.
Penetapan tersangka dilakukan berdasarkan tiga alat bukti, yakni keterangan saksi, barang bukti fisik hasil pembakaran dan bom molotov, serta alat bukti elektronik berupa rekaman video, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP.
Kelima tersangka dijerat Pasal 308 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, dengan ancaman pidana maksimal sembilan tahun penjara. Sementara kerugian materiil akibat pembakaran tersebut, berdasarkan keterangan pihak PT RCP, diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar.ungkap Erick.
Ditambahkan Erick, bahwa penangkapan tersangka A dalam perkara diskriminasi ras dan etnis tidak berkaitan dengan PT RCP. Tersangka A dijerat Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara.
“Polres Morowali mengimbau para pelaku yang masih buron agar segera menyerahkan diri dan bersikap kooperatif dalam proses hukum yang sedang berjalan,”pungkas Erick. (Pri)














