Dr. H. Suaib Djafar (Maestro Budayawan Kaili Sulawesi Tengah),(FOTO:IST)
KANTOR PERWAKILAN SULTENG JAKARTA
Oleh: Dr. H. Suaib Djafar (Maestro Budayawan Kaili Sulawesi Tengah)
“Pempevayo Ntodea Darikakavaona Mbavantoaka Livutontanakaili Sulawesi Tengah” (Cerminan Sulteng dari kejauhan, pandangan terhadap tanah Kaili dan Sulawesi Tengah)
Kantor Perwakilan Sulawesi Tengah di Jakarta bukan sekadar representasi administratif Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di ibu kota negara, tetapi merupakan ruang representasi identitas, potensi, budaya, dan aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah. Dari Jakarta, Sulawesi Tengah dipandang dari kejauhan sebagai sebuah daerah yang memiliki kekayaan alam, keragaman budaya, masyarakat yang beradab, serta semangat kebersamaan untuk membangun daerah.
Dalam perspektif kearifan lokal, “Pempevayo Ntodea Darikakavaona Mbavantoaka Livutontanah Kaili” mengandung makna bahwa Kantor Perwakilan menjadi cermin tempat melihat Sulawesi Tengah dari kejauhan: bagaimana daerah ini dikenal, dipersepsikan, diperkenalkan, sekaligus diperjuangkan kepentingannya pada tingkat nasional.
Cermin tersebut harus memantulkan wajah Sulawesi Tengah yang Nasugi ngatana, Nabeloadana Nteampena, Nosimpotove, Nosipeili, Nosimpoasi Todeana.—Sebuah gambaran tentang negeri yang kaya, masyarakat yang baik dan beradab, serta rakyat yang memiliki kepedulian, saling mengasihi, saling memperhatikan, dan saling membantu.
Makna tersebut sejalan dengan semangat Mosangu Morambanga Mombangu Ngata Sulteng Nambaso: bersatu, bergandengan tangan, dan bersama-sama membangun negeri Sulawesi Tengah yang besar, kuat, tangguh, sejahtera, dan berdaya saing.
Kantor Perwakilan sebagai
“Wajah Sulteng”
Kantor Perwakilan Sulteng Jakarta idealnya menjadi etalase Sulawesi Tengah di tingkat nasional. Di tempat ini dapat diperkenalkan potensi investasi, pariwisata, produk UMKM dan ekonomi kreatif, hasil pertanian dan perkebunan, kelautan dan perikanan, kebudayaan, tenun, bahasa daerah, seni, serta berbagai kearifan lokal Sulawesi Tengah.
Dengan demikian, kantor perwakilan bukan hanya tempat menjalankan fungsi pemerintahan, tetapi menjadi jembatan antara Sulteng dan Jakarta, antara daerah dan pusat, antara potensi daerah dan jejaring nasional, serta antara masyarakat Sulteng dengan dunia usaha, akademisi, media, dan berbagai pemangku kepentingan.
Filosofi “Dari Kejauhan Melihat Lebih Jelas”
Berada jauh dari tanah Sulteng bukan berarti jauh dari masyarakat. Justru dari kejauhan, seluruh potensi dan persoalan daerah dapat dipandang secara lebih luas. Karena itu, Kantor Perwakilan harus membawa semangat:
“Dari Sulteng membawa potensi, ke Jakarta membawa aspirasi, dari Jakarta membuka koneksi, untuk Sulteng menghadirkan investasi, inovasi, dan kemajuan.” Nuapa Rakenita hilau Nuapa Nikavata.
Kantor Perwakilan menjadi tempat memperkuat diplomasi daerah, memperluas jejaring, membuka peluang kerja sama, menarik investasi, mempromosikan produk unggulan daerah, sekaligus menyuarakan kepentingan pembangunan Sulawesi Tengah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tonda Talusi sebagai Landasan
Semangat tersebut dapat diperkuat melalui Tonda Talusi: Ada, Agama, Pamarentah—Tokoh Adat, Tokoh Agama, dan Pemerintah ( Maroso Ada,Maroso Agama, Maroso Pamarentah) Maama Ngata Nadeabelona. Sebagai tiga pilar yang saling menopang dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Diperkuat pula dengan keterlibatan Pemerintah, Masyarakat, Dunia Usaha, Akademisi, dan Media, sehingga Kantor Perwakilan menjadi ruang kolaborasi dan konektivitas pembangunan.
Dengan prinsip Nosarara Nosabatutu, pembangunan Sulteng tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dilakukan dalam semangat persaudaraan, kebersamaan, dan satu kesatuan.
Penutup
Kantor Perwakilan Sulteng Jakarta adalah “Cermin Sulteng dari Kejauhan”—tempat wajah Sulawesi Tengah dipantulkan, potensi daerah diperkenalkan, aspirasi rakyat disampaikan, dan jejaring pembangunan diperluas.
Ia harus memancarkan wajah Sulteng yang Nasugi Ngatana, Nabeloadana Nteampena, Nosimpotove, Nosipeili, Nosimpoasi Todeana: kaya negerinya, baik dan beradab masyarakatnya, peduli sesamanya, saling mengasihi, dan saling membantu rakyatnya.
Semuanya bermuara pada satu cita-cita: “Mosangu Morambanga Mombangu Ngata Sulteng Nambaso”
Bersatu, bergandengan tangan, membangun Sulawesi Tengah yang besar, kuat, sejahtera, berbudaya, bermartabat, dan berdaya saing.(*)














