Operator Crane Eli Basran, (FOTO: Supriyono)
Suara mesin industri nyaris tak pernah berhenti di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Di tengah aktivitas produksi dan lalu lalang alat berat, ribuan warga Morowali menggantungkan penghidupan dari kawasan industri pengolahan nikel yang berada di Kecamatan Bahodopi tersebut.
Laporan: Supriyono
Salah satunya Eli Basran. Selama lima tahun, ia bekerja sebagai operator crane di kawasan industri itu. Bagi Eli, mengoperasikan crane bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Ada tanggung jawab besar yang harus dijalankan setiap hari.
“Bagi saya ini bukan sekadar mencari nafkah, tapi bentuk tanggung jawab dan amanah yang diberikan kepada saya. Karena itu saya memberikan yang terbaik setiap harinya,” kata Eli.
Pekerjaan sebagai operator crane menuntut konsentrasi tinggi. Ukuran alat yang besar berbanding lurus dengan risiko yang harus dihadapi. Sedikit saja kehilangan fokus dapat berakibat pada keselamatan diri sendiri maupun rekan kerja.
Karena itu, sebelum memulai pekerjaan, Eli bersama rekan-rekannya menjalani pemeriksaan kesehatan dan briefing untuk mendengarkan instruksi dari pengawas. Setelah itu, mereka menuju alat masing-masing.
Pemeriksaan tidak berhenti di ruang briefing. Sebelum mengoperasikan crane, Eli melakukan P2H atau pemeriksaan dan pemeliharaan harian. Bagian kaki-kaki alat diperiksa, kemudian seluruh komponen di bagian atas dipastikan dalam kondisi baik, termasuk perangkat keselamatan.
Dalam menjalankan pekerjaan, operator crane juga tidak bekerja sendirian. Ada rigger yang membantu proses pekerjaan, terutama untuk memastikan aktivitas pengangkatan dan pemindahan material berjalan sesuai prosedur keselamatan.
“Tantangan terbesarnya menjaga konsentrasi setiap saat.
Kemudian cuaca, kondisi lapangan, serta tekanan pekerjaan yang bisa berubah-ubah setiap saat. Kami dituntut untuk selalu tetap tenang dalam bekerja,” ujar Eli.
Di balik pekerjaan dengan risiko tinggi itu, ada alasan sederhana yang membuatnya bertahan: keluarga.
Eli ingin hasil pekerjaannya memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang ia cintai. Karena itu, dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan baginya untuk menjalankan pekerjaan setiap hari.
“Faktor keluarga, saya menginginkan yang terbaik untuk mereka. Maka dari itu saya juga melakukan yang terbaik dalam pekerjaan saya,” katanya.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada keluarga yang selama ini memberikan dukungan dan doa. Harapannya sederhana, tetap diberi kesehatan dan kekuatan untuk bekerja setiap hari.
“Semoga kita bisa kembali berkumpul seperti sedia kala,” pungkasnya.
Puluhan Ribu Warga Sulawesi Bekerja di IMIP
Cerita Eli merupakan bagian kecil dari besarnya penyerapan tenaga kerja di kawasan IMIP.
Hingga akhir Agustus 2026, berdasarkan data HR Departemen PT IMIP, jumlah tenaga kerja di kawasan tersebut mencapai 98.266 orang.
Sebanyak 90.405 orang atau sekitar 92 persen berasal dari Pulau Sulawesi.
Dari jumlah tersebut, 31.445 orang atau 32 persen merupakan penduduk Provinsi Sulawesi Tengah. Sementara warga yang berasal dari Kabupaten Morowali mencapai 17.688 orang atau sekitar 18 persen.
Khusus tenaga kerja lokal dari Kecamatan Bahodopi, jumlahnya mencapai 10.809 orang atau sekitar 11 persen. Adapun pekerja yang berasal dari luar Pulau Sulawesi tercatat 7.861 orang atau 8 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan kawasan industri tidak hanya menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah, tetapi juga menyerap tenaga kerja dari wilayah tempat industri itu tumbuh.
Dari sisi pendidikan, sebagian besar tenaga kerja IMIP merupakan lulusan SMA dan SMK. Jumlahnya mencapai 63.382 orang atau 64,5 persen. Mereka kemudian mendapatkan pembekalan dan pelatihan langsung saat menjadi karyawan.
Sementara lulusan sarjana atau S1 mencapai 28.301 orang atau 28,8 persen. Adapun pekerja dengan latar belakang pendidikan diploma mencapai 4,6 persen.
Head of Media PT IMIP Dedy Kurniawan mengatakan, pertumbuhan kawasan industri tidak semata-mata diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi. Menurut dia, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dari perjalanan kawasan industri tersebut.
“IMIP tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang berbagai jenjang pendidikan untuk bertumbuh dan berkarya. Komitmen kami meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Dedy.
Pengangguran Morowali Menurun
Besarnya penyerapan tenaga kerja tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan struktur ketenagakerjaan di Kabupaten Morowali.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Morowali Gladius Alfonsus menyebut, berdasarkan Sakernas Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Morowali berada di angka 2,81 persen.
Angka tersebut turun 0,34 poin persentase dibandingkan Februari 2024 yang berada di level 3,15 persen.
Pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja di Morowali mencapai 85.039 orang.
Sebanyak 82.653 orang telah terserap bekerja, sementara 2.386 orang masih berstatus sebagai pengangguran.
Jika dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya, jumlah pengangguran juga menunjukkan penurunan. Pada 2020, jumlah angkatan kerja Morowali tercatat 57.727 orang dengan 54.721 orang telah bekerja. Sementara jumlah pengangguran mencapai 3.006 orang.
Di tengah pertumbuhan jumlah angkatan kerja tersebut, sebanyak 17.688 warga Morowali bekerja di kawasan IMIP. Jumlah itu setara sekitar 20 persen dari total angkatan kerja Morowali pada Agustus 2025.
Bagi pemerintah daerah, angka tersebut memperlihatkan besarnya peran kawasan industri dalam membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Morowali, Ahmad, ST, mengatakan pemerintah daerah memberikan dukungan dan apresiasi terhadap kontribusi IMIP dalam membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kompetensi, sekaligus memberdayakan tenaga kerja lokal.
Menurut dia, keberadaan kawasan industri telah memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja. Namun, pemerintah daerah berharap peluang tersebut terus diperluas agar masyarakat lokal menjadi bagian utama dari pertumbuhan industri di daerahnya sendiri.
“Penyerapan tenaga kerja lokal bukan semata-mata persoalan jumlah tenaga kerja, tetapi merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia dan pemerataan manfaat investasi di Kabupaten Morowali,” kata Ahmad.
Pemerintah daerah juga mendorong perusahaan-perusahaan di kawasan IMIP meningkatkan proporsi tenaga kerja lokal sesuai kompetensi dan kebutuhan jabatan.
Selain itu, pelatihan dan peningkatan kompetensi dinilai penting agar masyarakat Morowali tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu mengisi posisi teknis hingga manajerial.
Program pemagangan dan link and match antara industri dengan SMK, perguruan tinggi, Balai Latihan Kerja (BLK), serta lembaga pelatihan kerja juga didorong untuk diperkuat.
Pemerintah daerah turut menekankan pentingnya akses informasi lowongan kerja yang terbuka, program pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan karier bagi pekerja lokal.
Dari Pekerja Serabutan Menjadi Operator Crane
Pertumbuhan kesempatan kerja di kawasan IMIP juga terlihat dari tren jumlah tenaga kerja dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2020, jumlah pekerja di kawasan IMIP tercatat 35.592 orang. Setahun kemudian meningkat menjadi 51.542 orang. Pada 2022 jumlahnya mencapai 68.466 orang, kemudian 74.350 orang pada 2023.
Pada 2024, jumlah pekerja di kawasan tersebut telah mencapai sekitar 83.000 orang. Hingga Agustus 2026, jumlahnya kembali meningkat menjadi 98.266 orang.
Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya investasi dan aktivitas industri di kawasan IMIP.
Bagi warga lokal, kesempatan kerja tersebut berarti lebih dari sekadar angka dalam statistik.
Sebelum bekerja di industri, sebagian masyarakat menggantungkan penghasilan dari pekerjaan serabutan.
Setelah memperoleh pekerjaan di kawasan industri, mereka memiliki sumber pendapatan yang lebih teratur sekaligus kesempatan meningkatkan keterampilan.
Eli adalah salah satu gambaran dari perubahan tersebut.
Kini, setiap hari ia harus memastikan crane yang dioperasikannya berada dalam kondisi layak, menjalankan prosedur keselamatan, menjaga konsentrasi, dan berkoordinasi dengan rigger serta pengawas.
Pekerjaannya tidak ringan. Namun, di balik helm keselamatan dan ruang kendali crane, ada harapan sederhana yang terus ia bawa: bekerja dengan baik, pulang dengan selamat, dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
Sementara bagi Morowali, ribuan Eli lainnya menjadi bagian dari cerita yang lebih besar—tentang bagaimana industrialisasi mengubah peta kesempatan kerja, membuka ruang bagi tenaga kerja lokal, dan perlahan ikut membentuk wajah baru perekonomian daerah.
Di kawasan industri yang terus berkembang itu, angka 17.688 bukan sekadar statistik. Di baliknya ada ribuan orang, ribuan keluarga, dan ribuan harapan yang ikut bergerak bersama denyut industri Morowali.(pri)














