UNTAD:Suasana kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen universitas Tadulako.(FOTO:IST)
dteksinews, Donggala – Upaya memperluas pasar sekaligus memperkuat keberadaan tenun Towale sebagai produk budaya lokal mendapat perhatian dari tim dosen Universitas Tadulako (Untad). Melalui hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim pengabdi Untad mendorong pemasaran tenun Towale melalui pemanfaatan teknologi digital.
Pengabdian kepada masyarakat tersebut diketuai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untad, Pricylia Chintya Dewi Buntuang, S.E., M.Si., dengan anggota Dr. Yobert Kornelius, S.E., M.S., dan Moh. Royfandi, S.Sos., M.A.P., dosen Jurusan Administrasi FISIP Untad. Kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa FEB Untad, Nurindah Muslimah dan Nurfitriana.
Dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan, Pricylia mengatakan keberadaan tenun Towale memiliki nilai penting, baik dari sisi ekonomi maupun sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal. Karena itu, diperlukan strategi pengembangan yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen.
“Tim pengabdi melakukan transformasi strategi pemasaran, yang awalnya konvensional berubah menjadi lebih modern melalui penggunaan website,” ujar Pricylia.
Sebagai bagian dari program tersebut, tim pengabdi merancang platform tenuntowale.id sebagai sarana pemasaran digital produk tenun Towale.
“Website tersebut diharapkan dapat membantu para perajin memperluas jangkauan pasar sekaligus memudahkan masyarakat mengenal dan mendapatkan produk tenun Towale,” jelas Pricylia.
Sementara Kepala Desa Towale, Subhan, S.H., M.Si., menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pengembangan tenun Towale melalui digitalisasi sejalan dengan visi pemerintah desa untuk memperkenalkan potensi budaya dan produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
“Ini sejalan dengan visi saya sebagai kepala desa untuk mengembangkan dan memperkenalkan produk atau budaya lokal Towale agar lebih dikenal masyarakat luas,” katanya.
Subhan menjelaskan, kemitraan antara Pemerintah Desa Towale dan Untad telah terjalin cukup lama. Bahkan, Ketua Tim Pengabdi, ibu Pricylia, sebelumnya juga telah melakukan penelitian terkait hibah Kemdiktisaintek.
“Hasil penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu rekomendasi yang diaplikasikan melalui kegiatan pengabdian di Desa Towale, khususnya untuk penguatan pengelolaan BUMDes,” jelasnya.
Menurutnya, kemitraan dengan BUMDes menjadi langkah strategis untuk memberdayakan para perajin tenun. Dengan pengelolaan yang lebih baik dan dukungan pemasaran digital, produk tenun Towale diharapkan mampu meningkatkan pendapatan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
Direktur BUMDes Towale yang baru, Abdul Latif, S.Pd., juga menyambut positif kegiatan tersebut. Dia menilai pendampingan dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan BUMDes.
“Kami masih membutuhkan arahan dalam mengelola BUMDes. Kami ingin BUMDes di desa ini dapat memberikan dampak besar terhadap pemberdayaan dan peningkatan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Sejumlah pihak yang terlibat dalam pengelolaan website, termasuk kepala desa, bendahara BUMDes, dan operator, turut memberikan apresiasi terhadap kehadiran tenuntowale.id.
Mereka menilai platform tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pemasaran kain tenun Towale hingga ke luar daerah.
Pricylia berharap kedepan masyarakat dari berbagai daerah dapat memesan produk tenun Towale secara langsung melalui website tersebut. Selain memperluas pasar, digitalisasi juga diharapkan mampu memperkenalkan tenun Towale sekaligus budaya Desa Towale kepada khalayak yang lebih luas.
“Semoga ke depannya masyarakat di luar sana dapat memesan tenun secara langsung melalui website. Tentunya, keberadaan website ini juga berdampak pada upaya memperkenalkan produk dan budaya lokal Desa Towale,” pungkasnya.(*/pri)














