Uji Sidang Terbuka Doktoral Ilmu Kepolisian PTIK tentang Bahaya Radikalisme di Tubuh Polri, Bamsoet Dorong Penguatan Ideologi di Polri

- Penulis

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bambang Soesatyo dorong penguatan Ideologi di Polri,(FOTO: DOK Bamsoet)

 

dteksinews, Jakarta- Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan dosen Pascasarjana Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan dan Universitas Jayabaya, Bambang Soesatyo, menegaskan ancaman radikalisme di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) harus dipandang sebagai persoalan serius yang menyangkut kepercayaan publik dan ketahanan negara. Di tengah meningkatnya kompleksitas keamanan, masuknya paham ekstrem ke dalam institusi penegak hukum dapat merusak fondasi profesionalisme sekaligus melemahkan legitimasi negara dalam menjaga ketertiban masyarakat.

Riset SETARA Institute pada tahun 2019 mencatat hampir 4 persen personel TNI/Polri terindikasi terpapar paham radikal. Sementara survei Alvara Research Center menyebut sekitar 23.000 anggota Polri dari total lebih 400 ribu personel memiliki kecenderungan serupa.

Sejumlah kasus juga memperlihatkan bagaimana radikalisme dapat menembus institusi kepolisian. Kasus keterlibatan Brigadir Syahputra pada tahun 2015 hingga Bripda Nesti Ode Sami pada tahun 2019 yang diduga terkait jaringan Jamaah Ansharut Daulah menjadi peringatan keras bahwa radikalisasi bisa menyasar siapa saja, termasuk aparat yang memiliki akses terhadap senjata dan informasi strategis.

 

“Radikalisme di tubuh Polri adalah ancaman terhadap fondasi negara. Ketika aparat penegak hukum terpapar, yang dipertaruhkan bukan sekadar disiplin internal, tetapi kepercayaan rakyat dan legitimasi negara itu sendiri,” tandas Bamsoet.

 

Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet saat menjadi penguji Sidang Promosi Doktor Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Ajun Komisaris Polisi (AKP) Rifaizal Samual, dengan disertasi berjudul “Model Pencegahan Radikalisme di Institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia”, di Kampus PTIK/STIK Jakarta. Rabu (6/5/26).

Hadir sebagai penguji lain Komjen Pol. Prof Chrysnanda Dwilaksana, Irjen Pol. Prof Eko Rudi Sudarto, Brigjen Pol. KIF Aminanto, Prof. Angel Damayanti, Dr. TB. Ace Hasan, Dr. Sutrisno, Dr. Yopik Gani, Dr. Sidratahta Muktar, dan Dr. Novi Indah Earlyanti.

Ketua DPR RI ke-20 sekaligus Ketua Komisi III DPR RI ke-7 dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, radikalisme di tubuh Polri sangat berbahaya karena institusi ini memiliki kewenangan besar, akses terhadap senjata, serta posisi strategis dalam menjaga keamanan nasional. Dalam situasi sosial yang dinamis, termasuk meningkatnya eskalasi demonstrasi publik dalam beberapa tahun terakhir yang melibatkan ribuan massa dan benturan dengan aparat, profesionalisme dan ketahanan ideologis aparat menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas.

Baca Juga:  Bamsoet, Dukung Langkah Presiden Prabowo Tingkatkan Pendidikan Nasional Melalui Kerja Sama Dengan Kampus Bergengsi di Inggris

“Ketika aparat yang seharusnya menjadi benteng negara justru terpapar ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, maka risiko yang muncul jauh lebih besar dibandingkan ancaman dari luar,” tegas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua KADIN Indonesia ini menilai pendekatan penanganan selama ini masih cenderung reaktif dan belum menyentuh akar persoalan. Pengawasan yang hanya berbasis perilaku dinilai tidak cukup untuk mendeteksi radikalisme yang berkembang di level pemikiran. Karena itu, diperlukan sistem deteksi dini yang lebih komprehensif, termasuk pemanfaatan teknologi dan analisis perilaku digital.

“Pendekatan penindakan saja tidak cukup. Kita harus masuk ke akar persoalan, memperkuat ketahanan mental, ideologi, dan profesionalisme setiap anggota,” urai Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini menekankan pentingnya membangun “imunitas ideologis” di tubuh Polri melalui pendidikan berkelanjutan yang menanamkan nilai-nilai Pancasila secara substantif. Artinya, setiap anggota memiliki daya tahan terhadap infiltrasi paham ekstrem, sekaligus didukung sistem yang mampu membaca dan merespons ancaman sejak dini.

Selain itu, kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), akademisi, serta masyarakat sipil perlu diperkuat untuk mengembangkan strategi kontra radikalisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Menjaga Polri dari infiltrasi radikalisme berarti menjaga masa depan keamanan nasional, menjaga kepercayaan publik, dan memastikan negara tetap hadir melindungi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Bamsoet. (red/dteksinews)

Sumber: Bamsoet

Editor:Supriyono p

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel dteksinews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perkuat Kemitraan Strategis Melalui Pertemuan Bilateral, Panglima TNI Dampingi Menhan RI Terima Kunjungan Menhan Jepang 
Presiden Prabowo  Pimpin  Rapat Terbatas Kabinet Merah Putih 
Raih Akreditasi Tinggi, Dr.Muhamad Dasril Mendapat Penghargaan  dari Rektor Unismuh 
Demokrasi Indonesia Butuh Fondasi Kuat, Bamsoet Tekankan Pembenahan Partai Politik
Terkait  Hina Jurnalis,Kadis DP2KB Sulteng Herry Mulyadi Sampaikan Permohonan Maaf 
JMSI Sulawesi Tengah, Kecam Pernyataan Mantan Direktur RSUD Undata Hina Jurnalis
Danrem 132/Tadulako Kunjungi Kodim 1307/Poso, Tegaskan Profesionalisme dan Kedekatan dengan Rakyat
Laporan Jurnalis di Polda Sulteng Belum ada Kejelasan 
Berita ini 2 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:03 WIB

Uji Sidang Terbuka Doktoral Ilmu Kepolisian PTIK tentang Bahaya Radikalisme di Tubuh Polri, Bamsoet Dorong Penguatan Ideologi di Polri

Rabu, 6 Mei 2026 - 10:28 WIB

Perkuat Kemitraan Strategis Melalui Pertemuan Bilateral, Panglima TNI Dampingi Menhan RI Terima Kunjungan Menhan Jepang 

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:41 WIB

Presiden Prabowo  Pimpin  Rapat Terbatas Kabinet Merah Putih 

Rabu, 6 Mei 2026 - 02:23 WIB

Demokrasi Indonesia Butuh Fondasi Kuat, Bamsoet Tekankan Pembenahan Partai Politik

Rabu, 6 Mei 2026 - 00:59 WIB

Terkait  Hina Jurnalis,Kadis DP2KB Sulteng Herry Mulyadi Sampaikan Permohonan Maaf 

Berita Terbaru