Ojo Dumeh, Sebuah Renungan Filosofis

- Penulis

Selasa, 5 Maret 2024 - 13:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan Budaya Supriyono*)

“ Dalam menjalani hidup, jadilah manusia yang bisa membawa manfaat untuk orang lain. Ojo dumeh [jangan mentang-mentang]. Ojo dumeh sugih banjur semugih [mentang-mentang kaya lantas sok kaya] tidak menghargai orang lain. Sikap dan perilaku seperti itu, bukan sikap seorang ksatria. Tetap andap asor [rendah hati] dan muliakanlah sesama manusia sebagai layaknya manusia,” demikian penggalan nasehat kakek saya puluhan tahun silam.

Ojo dumeh merupakan falsafah yang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa. Dalam bahasa Jawa, ojo artinya jangan dan dumeh berarti mentang-mentang. Jika digabungkan, ojo dumeh artinya jangan mentang-mentang atau jangan sok.

Ojo dumeh merupakan buah dari sikap narimo ing pandum. Dalam falsafah Jawa, berarti iklas dalam menerima sesuatu yang berasal dari Tuhan.

Jika falsafah tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam situasi bangsa saat ini, ojo dumeh memberikan nilai berarti bagi kehidupan. Falsafah ojo dumeh juga sebagai bentuk penghargaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Falsahan ini bahkan dinilai bisa membuat masyarakat lebih rukun dan harmonis.

Baca Juga:  Babinsa Koramil 1311-08/Soyo Jaya  Gotong Royong Pemasangan Tenda  Safari Natal 

Falsafah ojo dumeh ini bisa menjadi pengingat bagi seseorang untuk tidak bersikap angkuh dan tinggi hati dalam menjalani kehidupan.

Jika memiliki suatu kelebihan, janganlah memamerkannya kepada orang lain yang kekurangan. Jangan terlalu membangga-banggakan apa yang dimiliki, baik itu pangkat atau jabatan, kecantikan, ketampanan, harta/benda, maupun ketenaran.

Ojo dumeh memberikan pelajaran pada seseorang agar selalu mawas diri terhadap segala ucapan maupun tindakan yang akan dilakukan.

Falsafah tersebut turut mengajarkan sopan santun dalam berperilaku serta mengajarkan diri untuk selalu introspeksi. Jangan karena merasa lebih dari orang lain, maka bisa bersikap seenaknya tanpa memedulikan sekitar, menyakiti perasaan orang lain.

Boleh saja menganggap diri sendiri sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna, paling hebat, paling tinggi, ataupun paling mulia. Namun, itu hanyalah sekadar anggapan. Sebab seperti kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Artinya, masih ada orang lain yang lebih hebat atau lebih pandai.

*) Pekerja budaya, pemulung kata-kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel dteksinews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Idulfitri 1447 H di IMIP, Tingkatkan Kolaborasi dan Persaudaraan
Kodim 1311/Morowali,Shalat Idul Fitri 1447 H dengan Khidmat
Dandim 1311/Morowali Hadiri Pelepasan Pawai Mobil Hias,Sambut Idul Fitri 1447 H
Sentuh Hati, Bupati Morowali Berlari Kejar Mobil Hias yang Dipenuhi Anak-Anak
Semangat Idulfitri Tak Pernah Padam, Bupati Morowali Apresiasi Antusias Warga
Ribuan Jemaah Muhammadiyah,Shalat  Idulfitri Di Halaman Unismuh Palu 
Bupati Iksan Apresiasi Perubahan Signifikan Masjid Agung Morowali
Dari Buka Puasa ke Peresmian Masjid, Bupati Apresiasi CSR PT Huabao
Berita ini 44 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 21 Maret 2026 - 14:02 WIB

Idulfitri 1447 H di IMIP, Tingkatkan Kolaborasi dan Persaudaraan

Sabtu, 21 Maret 2026 - 13:55 WIB

Kodim 1311/Morowali,Shalat Idul Fitri 1447 H dengan Khidmat

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:34 WIB

Dandim 1311/Morowali Hadiri Pelepasan Pawai Mobil Hias,Sambut Idul Fitri 1447 H

Jumat, 20 Maret 2026 - 13:58 WIB

Semangat Idulfitri Tak Pernah Padam, Bupati Morowali Apresiasi Antusias Warga

Jumat, 20 Maret 2026 - 03:35 WIB

Ribuan Jemaah Muhammadiyah,Shalat  Idulfitri Di Halaman Unismuh Palu 

Berita Terbaru