Poltekkes Kemenkes Palu menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Ganti, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala,(FOTO:IST)
dteksinews, Donggala- Poltekkes Kemenkes Palu menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Ganti, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, selama dua hari, Senin-Selasa (13-14/7/2026).
Kegiatan ini mengintegrasikan tiga program sekaligus, yakni edukasi makanan pendamping air susu ibu (MPASI), pemicu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dan pelatihan pengukuran antropometri.
Ketiga program tersebut digelar sebagai upaya mendukung percepatan penurunan angka stunting di wilayah tersebut.
Kegiatan yang diketuai oleh Ns Taqwin, ini diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas 10 kader kesehatan dan 10 ibu balita.
Pelaksanaannya melibatkan tim dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Palu, serta mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kelurahan Ganti, Puskesmas Gonenggati, bidan, dan kader kesehatan setempat.
Selain dosen, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Palu turut berperan aktif mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung.
Para mahasiswa membantu pelaksanaan tes awal dan tes akhir, memfasilitasi demonstrasi MPASI, mendampingi praktik pengukuran antropometri, hingga membantu proses dokumentasi kegiatan.
Keterlibatan mahasiswa ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, pemberdayaan masyarakat, dan penerapan ilmu kesehatan secara langsung di bawah supervisi dosen.
Kegiatan turut dihadiri oleh Lurah Ganti, Isbat Halaco, dan Kepala Puskesmas Gonenggati, Ahmad.
Lurah Ganti menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kader dan ibu balita tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung. Kami berharap materi yang diperoleh dapat diterapkan dalam keluarga dan disampaikan kembali kepada masyarakat melalui kegiatan Posyandu,” ujar Isbat Halaco.
Selama kegiatan, peserta memperoleh berbagai materi terkait waktu pemberian MPASI, keberagaman pangan, pemanfaatan bahan pangan lokal, sumber protein hewani, tekstur makanan sesuai usia, keamanan pangan, hingga pemberian makan responsif.
Melalui sesi pemicuan STBM, peserta juga diajak untuk mengenali hubungan antara kondisi sanitasi, penyakit infeksi, dan pertumbuhan balita.
Khusus bagi kader kesehatan, tim pengabdian memberikan pelatihan penimbangan berat badan serta pengukuran panjang atau tinggi badan balita sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Kepala Puskesmas Gonenggati, Ahmad, menegaskan bahwa ketepatan pengukuran sangat penting dalam pemantauan pertumbuhan anak.
“Pencegahan stunting tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi. Sanitasi, pencegahan penyakit infeksi, dan ketepatan pengukuran pertumbuhan juga harus diperhatikan. Data antropometri yang akurat membantu tenaga kesehatan mendeteksi masalah pertumbuhan dan menentukan tindak lanjut,” jelas Ahmad.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh indikator yang diukur.
Pengetahuan MPASI kader meningkat dari 62,5 menjadi 92,0, sementara pengetahuan ibu balita meningkat dari 45,0 menjadi 85,5.
Pada aspek STBM, pengetahuan kader meningkat dari 70,0 menjadi 95,0, dan pengetahuan ibu balita meningkat dari 52,5 menjadi 87,5.
Sementara itu, keterampilan antropometri kader turut mengalami peningkatan tajam, dari 65,0 menjadi 96,5.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah kelurahan, puskesmas, kader, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan upaya pencegahan stunting di Kelurahan Ganti. (*)
Editor:Supriyono














