Indonesia akan denda US$8,5 miliar kebun sawit dan tambang di hutan

- Penulis

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dteksinews, Jakarta- Pemerintah Indonesia mengidentifikasi potensi denda hingga US$8,5 miliar yang dapat dipungut pada 2026 dari perusahaan kelapa sawit dan pertambangan yang beroperasi secara ilegal di kawasan hutan.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengatakan, potensi penerimaan tersebut berasal dari penertiban besar-besaran yang dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan bentukan Presiden Prabowo Subianto.

Satgas ini melibatkan unsur TNI, Polri, kejaksaan, serta kementerian dan lembaga terkait.

Sepanjang tahun ini, satgas melakukan penindakan terhadap perkebunan dan tambang yang berada di wilayah yang seharusnya merupakan kawasan hutan. Langkah ini dinilai sebagai operasi penertiban terbesar yang pernah dilakukan pemerintah.

“Untuk 2026, terdapat potensi penerimaan negara dari denda administratif perkebunan sawit di kawasan hutan sebesar Rp109,6 triliun dan dari sektor pertambangan sebesar Rp32,63 triliun,” ujar Burhanuddin.

Ia menambahkan, hingga saat ini satgas telah mengambil alih 4,1 juta hektare perkebunan dan tambang ilegal, atau setara dengan luas wilayah Belanda.

Selain itu, pemerintah telah mengumpulkan denda sebesar Rp2,34 triliun dari 20 perusahaan sawit dan satu perusahaan tambang nikel, yang kemudian diserahkan kepada Menteri Keuangan.

Baca Juga:  Program Magang di IMIP Sejak 2017, Upah Lampaui UMK

Dalam kesempatan yang sama, Burhanuddin juga menyerahkan lebih dari 240.500 hektare lahan perkebunan kepada BUMN Agrinas Palma Nusantara.

Perusahaan yang dibentuk pada awal 2025 itu kini mengelola total 1,7 juta hektare lahan, menjadikannya perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia berdasarkan luas area.

Seperti dikutip reuters.com, kampanye penertiban yang didukung militer ini menimbulkan kekhawatiran di industri sawit.

Sejumlah analis menilai, kebijakan tersebut, jika dikombinasikan dengan program biodiesel pemerintah Indonesia, berpotensi menekan produksi dan mendorong kenaikan harga global.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto dalam acara tersebut memuji kinerja satgas dan menegaskan komitmennya untuk melindungi kekayaan nasional.

Ia juga menyinggung adanya pihak-pihak yang dinilai telah merugikan Indonesia, termasuk kekuatan asing yang mencoba melemahkan pemerintahannya.

“Perjalanan ini memang berat, tetapi insting saya mengatakan pada 2026 kita akan melangkah lebih berani. Kita akan menyelamatkan kekayaan bangsa ini tanpa ragu,” kata Prabowo.

Sebagai catatan, Indonesia merupakan eksportir terbesar dunia untuk minyak sawit, batu bara termal, nikel, dan timah. (*/dteksinews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel dteksinews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas, Bahas Langkah Strategis
Babinsa 1311-09, Berhasil Amankan Terduga Pelaku Curanmor di Labota
Polres Morowali Gencar Imbau Masyarakat Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan
Tankos dan Solid Sawit, Alternatif Solusi Jangka Panjang Karhutla
Bea Cukai Morowali Layani Impor 158 Milyar Pembangunan Industri Kelapa Di Morowali
WNI dan WNA Wajib Tahu! All Indonesia Permudah Proses Masuk ke Indonesia
Bamsoet Kembali Luncurkan Buku Terbaru ke-38 “Politik Hukum Konstitusi” dan Buku J. Osdar “Dari Senayan ke Ruang Kuliah”
Pastikan Takaran Tepat, Pemkab Morowali Gelar Tera dan Tera Ulang Perdana
Berita ini 57 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 14:06 WIB

Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas, Bahas Langkah Strategis

Selasa, 8 September 2026 - 13:18 WIB

Babinsa 1311-09, Berhasil Amankan Terduga Pelaku Curanmor di Labota

Selasa, 8 September 2026 - 11:54 WIB

Polres Morowali Gencar Imbau Masyarakat Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan

Selasa, 8 September 2026 - 10:24 WIB

Tankos dan Solid Sawit, Alternatif Solusi Jangka Panjang Karhutla

Selasa, 8 September 2026 - 09:50 WIB

Bea Cukai Morowali Layani Impor 158 Milyar Pembangunan Industri Kelapa Di Morowali

Berita Terbaru